KH Athian Ali Muhammad Dai:

“KAMI BUKAN ULAMA KARET”

.
Bila menghina Islam, muslim maupun kafir wajib dibunuh. Jembatan MUI dengan umat sudah putus.

.

KIAI Haji Athian Ali Muhammad Da’i tampak bersemangat kala berbincang tentang dua orang yang telah difatwakan wajib dihukum mati itu. Athian dilahirkan di Bandung, 50 tahun lampau. Dialah anak Ali Muhammad Da’i, seorang pendiri Universitas Islam Bandung.

Sejak kecil, Athian dididik ayahnya dengan disiplin ilmu-ilmu keislaman. Begitu SMU, ia terbang ke Mesir dan belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia mengambil bidang studi hukum Islam. Athian juga belajar di Institut Studi Islam Kairo, Jurusan Studi Islam dan Sosiologi Islam.

Pada 1984-1994, Athian menjabat Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Kini, selain sebagai penceramah, ia juga mengajar agama Islam di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Untuk mengetahui latar belakang keluarnya fatwa wajib hukuman mati bagi Suradi dan Poernama itu, Sulhan Syafi’i dari Gatra menemui Athian di rumahnya, di Jalan Situsari, Buah Batu, Bandung, Jumat malam pekan lalu. Petikan wawancaranya:

.

Bagaimana proses munculnya fatwa atas Suradi dan Poernama itu?

Kami sudah melakukan rapat empat kali sebelum memutuskannya. Para penasihat Forum Ulama Umat (FUU) juga sudah dimintai sarannya. Setelah matang, baru kami keluarkan.

.

Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Suradi dan Poernama sehingga keduanya divonis mati?

Mereka secara sengaja dan terencana melakukan misi Kristenisasi. Buktinya adalah kaset, buku, dan pamflet yang dibuat dan diperbanyak oleh Yayasan Christian Centre Nehemia (CCN). Mereka memasang target pemurtadan kaum muslimin.

.

Seperti apa pemurtadan itu?

Penyebaran agama pada kaum muslim. Itu kan nggak boleh, karena jelas mereka sudah memeluk Islam. Penyebaran pamflet dan brosur mengenai Islam oleh CCN, tapi isinya tak sesuai dengan ajaran Islam. Pamflet itu sengaja dikirim ke alamat-alamat tertentu. Menghina Allah dengan menyebutkan Allah terbuat dari batu hitam yang kini diletakkan di samping Ka’bah.

Apakah vonis mati itu tak bisa ditawar?

Dalam buku berjudul Pedang yang Terhunus bagi Penghina Islam karangan Ibnu Taymiyah dinyatakan, wajib dibunuh baik muslim maupun kafir bila nyata-nyata menghina Islam.

.

Untuk kasus Suradi dan Poernama, bagaimana FUU akan mengeksekusinya?

Organisasi Islam yang mendukung fatwa ini banyak. Kami tak bergerak sendiri. Jadi, kami akan mengerahkan orang-orang yang sudah menyatakan diri siap membela Islam dalam tablig akbar untuk menjalankan vonis itu.

.

Apakah FUU punya batas waktu bagi polisi untuk menyelesaikan masalah ini?

Inti masalahnya, apakah polisi mau memproses kedua pendeta itu. Kalau polisi mau, ya silakan. Kami tak akan ke Jakarta untuk mencari keduanya. Sebab, kami yakin, hukum di negeri ini masih bisa ditegakkan. Kami sendiri ingin sekali masalah ini diselesaikan secara hukum agar semuanya jelas.

.

Kalau mereka sudah melakukan sesuatu yang dinilai melanggar ajaran Islam atau kaidah-kaidah dalam Islam, apakah vonisnya harus mati?

Ya, mati! Seperti yang saya katakan tadi, tak ada pilihan lain. Tapi, kita lihat kerja polisi dulu. Dan kita harapkan, kejadian ini adalah yang terakhir kali. Jangan ada lagi praktek-praktek seperti ini. Bikin resah saja.

.

Mengenai fatwa FUU ini, apakah tidak terlalu keras?

Bukan masalah keras atau tidak. Aturan dalam Islam itu tetap. Saya bukannya keras, melainkan ingin menjalankan aturan dalam Al-Quran sesuai dengan isinya. Sekarang begini, mereka yang berteriak agar pendeta yang menghina Islam itu dibunuh bukanlah keras. Mereka itu taat namanya. Saat ini banyak orang yang menyatakan diri sebagai kiai, tapi mereka tak peduli pada masalah ini. Mereka cenderung bisa ditarik ke sana kemari sesuai dengan kepentingannya, seperti karet. Saya tak mau disebut sebagai ulama karet.

.

Anda tampaknya sebagai motor penggerak dalam FUU?

Tidak juga. Peran teman-teman yang lain juga besar. Mereka terkenal konsisten sejak dulu. Makanya, lahirlah FUU. Kita merasa, MUI sudah tak menjalankan misinya sesuai dengan ide awal pembentukannya.

.

Kalau begitu FUU menjadi lembaga tandingan MUI?

Tidak begitu. FUU bukan sebuah organisasi yang formal seperti MUI. Kami hanyalah sebuah forum. Tapi, kami berniat menjadi sebuah wadah yang bisa menyelesaikan masalah umat, bukan hanya sebatas formalitas. MUI selama ini sudah terlalu jauh berpaling dari misi semula. Kalau saya istilahkan, jembatan yang menghubungkan MUI dengan umatnya sudah putus. Jembatan dari MUI hanya bisa nyambung ke pemerintah.

(Majalah Gatra No. 16 Tahun VII, hlm. 30)

.

Tulisan terkait:

  1. Fatwa Mati Untuk Pendeta Dan Penginjil
  2. Tafsir Sesat Orang Murtad
  3. Pelesetan Babi & Babu
  4. Pelesetan Kristen dan Babi
  5. Fatwa Forum ‘Ulama Ummat Mengenai Penghinaan terhadap Islam