PELESETAN KRISTEN DAN BABI

.

Salah satu masalah yang sering diperbincangkan berbagai kalangan Islam dan Kristen sampai saat ini adalah masalah hukum halal-haramnya babi. Para pendeta dan penginjil, biasanya berkelakar dengan mengatakan bahwa dalam Islam itu “babi haram babu halal”, sedangkan dalam Kristen “babi halal babu haram”. Hal ini dituangkan dalam buku Penginjilan Pribadi yang diterbitkan oleh Christian Centre Nehemia Jakarta. Pada halaman 41 buku tersebut dikutip 5 ayat Al-Qur`an yang di atasnya diberi judul “Babi Haram – Babu Halal”.

Umat Kristiani meyakini bahwa babi halal karena dalam Alkitab (Bibel) Yesus berkata dalam Injil Matius 15: 11, 17-20:

“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang… Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang” (majalah Gema Nehemia No. 2 hal. 15-16).

.

Penginjil Miskin Bahasa

Mengolok-olok syariat Islam dengan mengatakan bahwa Islam mengharamkan babi tapi menghalalkan babu, jelas tidak berdasar sama sekali. Tidak ilmiah dan hanya mempermalukan dirinya sendiri, karena hal itu hanya menunjukkan bahwa mereka sangat miskin bahasa, sehingga tidak bisa membedakan arti kata “babu” dengan “budak”.

Dalam Al-Qur`an, tidak satu ayat pun yang menyatakan bahwa pembantu rumah tangga (babu) itu halal (mahram) yang bebas dizinahi, diperkosa dan lain sebagainya seperti anggapan kasar umat Kristiani. Yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah hukum muamalah dengan golongan au maa malakat aimaanukum (budak yang dimiliki). Pendefinisian dan penjabaran makna budak dalam Al-Qur`an pun sangat luas dan penuh maslahat. Salah satunya, hukum perbudakan yang diatur dalam Islam adalah untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dan sistem perbudakan.

.

Babi dalam Taurat dan Injil

Dalam salah kitab Taurat disebutkan dengan tegas bahwa Babi itu mutlak haram.

“Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11: 7-8).

Haramnya babi itu dipertegas lagi dalam kitab Ulangan 14: 8. Tanpa alasan yang jelas, kata “babi” dalam Alkitab tahun 1970 itu diganti menjadi “babi hutan”. Entah apa maksudnya.

Ribuan tahun setelah berlalu masa Kitab Taurat, kemudian Yesus datang mengulangi penegasan terhadap haramnya babi. Dikatakan bahwa dia datang tidak untuk meniadakan hukum Taurat.

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16: 17). “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5: 17).

Dalam Alkitab versi Today’s English 1992, dijelaskan bahwa pengertian menggenapi yang dimaksud dalam ayat ini adalah to make their teachings come true (untuk menunjukkan arti yang sesungguhnya).

Jika Taurat dan Injil sama-sama mengharamkan babi, mengapa mereka berani menghalalkan babi? Karena mereka tunduk kepada doktrin Paulus, antara lain:

“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).

“Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani” (Surat Paulus kepada Jemaat Korintus yang Pertama 10: 25).

Pandangan Islam dan Medis

Allah itu Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima kecuali thayyiban (yang baik). Maka, meskipun Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk manusia (Al Baqarah 29), tetapi Allah hanya membolehkan manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan baik saja (Al Baqarah 168) dan tidak berlebih-lebihan (Al A’raaf 31). Otomatis, yang diharamkan Allah adalah makanan yang jelek-jelek saja, di antaranya adalah babi dan bangkai. Dengan tegas dan jelas Allah mengharamkan babi dalam Al-Qur`an:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..” (Qs. Al Maaidah 3; lihat: An Nahl 115, Al Baqarah 173).

Setelah diselidiki secara medis, ternyata babi beresiko tinggi terhadap berbagai penyakit ganas yang menular bagi manusia, antara lain:

Penyakit virus: swine influenza (flu babi), swine Vesicular Disease (penyakit kaki dan mulut), Reovirus (penyakit pada pencernaan dan pernafasan). Penyakit bakteri: tetanus, tuberculosis (TBC), antrhrax (virus yang menyerang kulit, pernafasan dan usus), yersiniosis (penyakit dengan gejala: usus buntu akut, radang usus dan keracunan darah), listeriosis, brucellosis, leptospirosis, melioidosis, pasteurellosis, vibriosis, staphlylococcosis, streptococcosis dll.

Penyakit cacing: trichinosis (cacing trichinella spiralis, tak seorang pun kebal terhadap cacing yang hidup di otot manusia ini), ascariasis (cacing yang menghabiskan makanan yang dimakan manusia), paragonimiasis (penyakit cacing dengan gejala: batuk kronis yang disertai darah), taenidae (penyakit cacing pita yang hidup di bawah kulit yang dapat menyerang otak dan berakibat epilepsy, kerusakan jaringan syaraf, dll).

Penyakit jamur: coccidiodomycosis (penyakit yang menyerang paru-paru dengan gejala: demam, menggigil, sakit dada, batuk dan berkeringat pada waktu malam (actinomycetes, superficial & cutaneous mycosis).

.

Dilema Kristiani

Kesimpulannya, dalam kitab Taurat dan kitab para nabi mengharamkan babi. Yesus juga mengharamkan babi, sesuai dengan hukum Taurat. Al-Qur`an tegas mengharamkan babi. Ilmu kedoktoran memperingatkan bahaya penyakit menular akibat makan babi. Hanya Paulus saja satu-satunya yang menghalalkan babi dalam Alkitab (Bibel).

Hasil akhirnya, terserah kepada umat untuk memilih konsumsi. Mau mengikuti Nabi Musa, Isa dan Muhammad yang mengharamkan babi, boleh dan baik!! Karena sejalan dengan ilmu kedoktoran. Atau ikut Paulus yang menghalalkan babi, juga boleh!! Tapi tanggung sendiri resikonya. Berbagai penyakit menular akan hinggap dalam seluruh tubuh anda. Bahkan mungkin akan terkontaminasi berbagai perilaku babi yang menjijikkan.

.

Pandangan Babi Alkitabiah

Setelah meluruskan tuduhan Kristen terhadap Islam tentang babi dan mengkaji keharaman babi dalam pandangan Islam, mari kita kritisi beberapa pandangan Alkitab (Bibel) tentang boleh-tidaknya makan babi.

Nabi Musa dalam kitab Taurat mengharamkan babi (Imamat 11: 7, Ulangan 14: 8), ini jelas dan tidak bisa dibantah lagi. Bahkan Kristen Advent sendiri sampai hari ini masih mengharamkan babi sesuai dengan ayat ini.

Yesus juga tidak menghalalkan babi dan tak ada keterangan dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa Yesus makan babi. Bahkan dalam Injil Matius 8: 31-33 diceritakan bahwa Yesus membunuh babi-babi tanpa minta izin kepada pemiliknya dengan cara yang mengenaskan. Yaitu tenggelam di dalam air setelah terjatuh dari tepian jurang. Jika Yesus suka makan babi dan menghalalkan babi, tentunya Yesus tidak akan membunuh babi-babi dalam jumlah yang banyak itu.

Sedangkan keterangan Yesus dalam Injil Matius 15: 11 dan 15: 17-20, ayat ini tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan Injil Matius sendiri, dalam pasal 5: 17 yang menyatakan bahwa Yesus tidak menghapuskan Hukum Taurat (termasuk hukum haramnya babi).

Mengkritisi Halalnya Babi dalam Injil

Alasan lain yang sejalan dengan Injil Matius, disebutkan dalam Markus 7: 14-19 yang berisikan sabda Yesus bahwa semua makanan itu halal, karena dalam ujung ayat 19 itu disebutkan: “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal”

Dalam Alkitab Today’s English Version 1976, kalimat Injil Markus 7: 14-19 ini “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal” itu ditulis dalam tanda kurung, karena masih diragukan otentitasnya. Demikian kutipannya: “(In saying this, Jesus declared that all foods are fit to be eaten.)”

Injil Markus ini harus dikaji ulang keabsahannya, karena dalam beberapa kisah tentang biografi Yesus yang diriwayatkannya, banyak yang bertentangan dengan kondisi masyarakat tempat Yesus tinggal dan hidup. Misalnya, Injil Markus 5: 9-14 yang mengisahkan bahwa Yesus mengizinkan setan-setan yang bernama Legion masuk dan membunuh 2.000 ekor babi di Gerasa.

“Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi” (Markus 5: 13-14).

Validitas data ayat ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Yahudi yang sangat mengharamkan babi. Di masyarakat yang sangat babi, mustahil ada ternak babi yang omsetnya mencapai ribuan. Dengan tingkat validitas yang dhaif, maka tidak heran jika para tafsir Alkitab dari Katolik mengomentari banyaknya ayat-ayat palsu dalam Injil Markus. Hal ini bisa dilihat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru cetakan Arnoldus Ende, Flores tahun 1977/1978. Copy lampiran selengkapnya bisa dilihat dalam buku Dokumen Pemalsuan Alkitab (Bibel) karya M. Samuel.

Mengkritisi Ajaran Paulus

Masih ada lagi ayat pegangan penginjil untuk menyatakan bahwa babi itu halal, yaitu sabda Paulus dalam Alkitab (Bibel) yang menyatakan bahwa tak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat.

“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).

Memang, intisari ajaran Paulus adalah merombak ajaran para nabi dengan menghapuskan hukum Taurat terlebih dahulu. Hal ini bisa disimak dalam berbagai ayat tulisan Paulus dalam Alkitab (Bibel), antara lain:

“Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat” (Roma 7: 6).

“Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman” (Galatia 3: 11).

Masih banyak lagi ayat-ayat kampanye Paulus untuk menghapuskan hukum Taurat. Jika ajaran Paulus ini disosialisasikan, maka betapa rusaknya tatanan masyarakat dunia. Karena hukum Taurat tidak semuanya bertentangan dengan zaman. Masih banyak hukum-hukum yang masih sesuai dengan perkembangan zaman bahkan mustahil dihapuskan dan sesuai dengan syariat agama, misalnya:

Larangan menyembah patung. “Jangan sujud menyembah kepada patung atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” (Keluaran 20: 5). Jika hukum Taurat ini dilarang atau tidak dibenarkan, berarti Paulus telah membolehkan orang bersujud menyembah patung, baik patung bunda Maria ataupun patung-patung dan arca keramat lainnya.

Perintah hormat kepada ayah dan ibu. Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Keluaran 20: 12). Jika hukum Taurat ini tidak boleh diamalkan, maka lahirlah generasi-generasi bejat yang durhaka kepada orang tua dan tidak tahu balas budi.

Larangan membunuh, zinah dan mencuri. “Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20: 13-16). Jika larangan tindak kriminil dan asusila ini tidak dibenarkan atau dilarang diterapkan, maka masyarakat semakin kacau-balau. Darah dan nyawa tidak ada harganya seperti binatang; perzinahan dan perselingkuhan semakin meraja lela; pencurian, perampokan dan penipuan semakin mengancam masyarakat.

Dan masih banyak lagi hukum Taurat yang masih bisa diterapkan dan tidak bertentangan dengan syariat akan terhapuskan, jika doktrin Paulus ini lebih diutamakan daripada ajaran para nabi dalam kitab-kitab suci.

Menyikapi Babi Secara Adil

Menyikapi berbagai konsep ajaran tentang babi, pandangan Islam sudah jelas dan baku. Babi adalah haram dzati (haram zatnya). Hikmahnya sangat banyak sesuai dalam pembahasan edisi lalu. Bagi para penginjil yang hobi menciptakan pelesetan yang menghina Islam, silahkan berpikir dengan jernih, ajaran mana yang sesuai dengan akal, kesehatan dan syariat agama. Untuk menyikapi doktrin Paulus yang merombak hukum peninggalan para nabi terdahulu, silakan renungkan sabda Yesus dalam Alkitab berikut:

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7: 15).

Dan masih banyak lagi hukum Taurat yang masih bisa diterapkan dan tidak bertentangan dengan syariat akan terhapuskan, jika doktrin Paulus ini lebih diutamakan daripada ajaran para nabi dalam kitab-kitab suci.

[Dikutip dari Majalah Sabili Th. X No. 13-14]

.

Tulisan terkait:

  1. Fatwa Mati Untuk Pendeta Dan Penginjil
  2. Tafsir Sesat Orang Murtad
  3. Pelesetan Babi & Babu
  4. Kami Bukan Ulama Karet
  5. Fatwa Forum ‘Ulama Ummat Mengenai Penghinaan terhadap Islam
Iklan