TAFSIR SESAT ORANG MURTAD

.

Suradi ben Abraham seorang dokter yang juga penginjil mendirikan Yayasan Chritian Centre Nehemia (CNN) pada 1987. Alumnus CNN sekitar 1000 orang yang tersebar di tanah air

.

RUMAH berlantai dua di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, itu hampir tak pernah sepi dari kesibukan. Tiap hari selalu ramai dikunjungi orang. Maklum, pemiliknya, Suradi ben Abraham, 72 tahun, adalah seorang dokter yang juga penginjil. Ia jadi penginjil sejak 1982.

Namun, aktivitasnya baru mencuat sejak Suradi mendirikan Yayasan Christian Centre Nehemia (CCN) pada 1987. Di rumah bercat putih itulah, ia menularkan ilmu penginjil kepada para muridnya. Kini, alumnus CCN tercatat hampir 1.000 orang. Mereka tersebar di Tanah Air. Salah seorang murid Suradi adalah Endang Yesaya, 48 tahun.

Pada Agustus 1999, Endang pernah menghebohkan media massa karena ceramah-ceramahnya menghujat Islam. Seperti halnya Suradi, ia juga pernah memeluk Islam. Tapi, kalau Suradi murtad -keluar dari Islam- sejak duduk di sekolah lanjutan atas, Endang baru murtad pada usia 44 tahun.

Maka, tak usah heran bila ajaran Endang tentang telaah penggalan ayat Al-Quran dan hadis dibandingkan dengan Injil mirip “tafsir” Suradi. Ulasan “tafsir” Suradi ini sering mengisi buletin Gema Nehemia milik Yayasan CCN. Gema Nehemia diterbitkan pada September 1989, dengan cetakan perdana 4.000 eksemplar.

Tulisan Suradi, “Yesus Kristus dalam Al-Quran Disebut Isa Almasih”, yang dimuat Gema Nehemia edisi Februari 1991, pernah diprotes Majelis Ulama Indonesia (MUI). Waktu itu, Ketua MUI Hasan Basri melaporkan Suradi kepada polisi. Namun, akhirnya Suradi bisa melepaskan diri dari jerat hukum.

Tak beda dengan “sang guru”, Endang pun menyebarkan ajarannya lewat ratusan lembar brosur. Khotbahnya yang berjudul “Rahasia Jalan ke Surga” dan “Membina Kerukunan Hidup Antarumat Beragama”, misalnya, sangat tendensius: mengupas ayat-ayat Al-Quran seenak perutnya, dan ajakan meninggalkan Islam.

Masyarakat muslim di Kampung Pasir Tengah, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, tempat tinggal Endang, ada yang termakan bujuk rayunya. Mereka pun murtad. Cara menggandeng umat Islam secara tak terpuji itulah yang membuat bapak lima anak ini harus menghuni bui. Pengadilan Negeri (PN) Sukabumi memvonis Endang dengan hukuman empat tahun penjara. Ia terbukti melanggar Pasal 157 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penodaan terhadap suatu agama. “Rasul saja banyak cobaan, apalagi saya,” kata Endang, waktu itu.

Tahun lalu, kasus penodaan Islam juga mengusik kaum muslim di Solo. Adalah Pendeta Ahmad Wilson asal Solo yang melontarkan argumen menentang ajaran Islam. Kala itu, Wilson sedang on-air di radio PTPN Rasitania, Solo. Dalam dialog interaktif bertajuk “Usaha Mengatasi Konflik Antarumat Beragama” itu, ucapan Wilson sangat menyinggung umat Islam.

Kata Wilson: “Sebelum menjadi muslim, Nabi Muhammad itu adalah pemeluk Kristen.” Reaksi keras masyarakat “kota bengawan” itu kontan muncul. Front Pemuda Islam Surakarta melaporkan Wilson dan pimpinan radio PTPN Rasitania ke polisi. Proses pun berlanjut ke meja hijau. Pada Juli 2000, Wilson dinyatakan bersalah dan diganjar hukuman lima tahun penjara.

Sebelum era reformasi, kasus serupa juga dilakukan Abubakar Mashur Yusuf Rony. Akhirnya Yusuf Rony, yang dikenai pasal pelanggaran subversi -menghasut umat beragama dan menyerang Islam- divonis enam tahun penjara oleh PN Jakarta Pusat, Juli 1979. Yusuf Rony, yang mengaku sebagai orang Jepang berdarah ningrat keturunan Dinasti Syailendra, awalnya adalah penganut ajaran Shinto.

Kemudian, Yusuf Rony masuk Islam. Awal 1970-an, kala usianya 25 tahun, ia menahbiskan diri sebagai mubalig. Tapi, pertengahan 1973, ia murtad dan memproklamasikan diri sebagai pemeluk Kristen. Pidato kesaksiannya, “Risalah Kesaksian Mengapa Saya Memilih Kristus sebagai Juru Selamat”, menghebohkan umat Islam.

Dengan seenak sendiri, Yusuf Rony menerjemahkan ayat Iqro, yang berarti “bacalah” menjadi “bacalah Injil”. Yusuf Rony pun dikenal sebagai penginjil. Ia mengabarkan Injil di gereja-gereja besar, dari Jakarta, Palembang, Palangkaraya, Bandung, hingga Surabaya.

Senada dengan Suradi, Yusuf Rony juga membandingkan “tafsir” semau gue-nya dengan Injil. Waktu itu, meski Yusuf Rony telah minta maaf kepada umat Islam, perbuatannya tak kalis dari meja hijau. Kini, kisah terulang tampaknya bakal menjerat Suradi.

(Majalah Gatra No. 16 Tahun VII, hlm. 27)

.

Tulisan terkait:

  1. Fatwa Mati Untuk Pendeta Dan Penginjil
  2. Pelesetan Babi & Babu
  3. Pelesetan Kristen dan Babi
  4. Kami Bukan Ulama Karet
  5. Fatwa Forum ‘Ulama Ummat Mengenai Penghinaan terhadap Islam

Suradi ben Abraham seorang dokter yang juga penginjil mendirikan Yayasan Chritian Centre Nehemia (CNN) pada 1987. Alumnus CNN sekitar 1000 orang yang tersebar di tanah air