Waspadalah terhadap buku-buku ‘aneh’ yang menyalahgunakan kitab Al-Qur’an, meskipun di sampul depan dipajang ayat Al-Qur’an. Karena para misionaris sudah biasa memperalat Al-Qur’an sebagai umpan kristenisasi. Salah satu contohnya adalah diktat putih tulisan Abd Yadi (nama samaran?) ini. Pada sampulnya, dikutip khat Arab ayat Al-Qur’an “wattabi’uuni haadzaa shiraatum mustaqiim.” Di bawah ayat ini terpampang foto Yesus dengan pose berdiri menginjak sebuah kitab, dengan latar belakang sinar salib warna kuning.

Ayat “wattabi’uuni haadzaa shiraatum mustaqiim” adalah kutipan dari Al-Qur’an surat Az Zukhruf 61 yang berarti, “ikutilah aku, inilah jalan yang lurus.” Jadi, pesan di sampul buku itu adalah ajakan penginjil agar para pembaca mengikuti Yesus, karena Yesuslah jalan yang lurus.

Dalam diktat ukuran kertas kuarto 73 halaman tersebut, penginjil yang menamakan diri Abd Yadi mengutip puluhan ayat Al-Qur’an yang penafsirannya diselewengkan untuk mengajak pembaca agar beralih menjadi kristiani. Salah satu doktrin yang ditekankan dalam buku tersebut adalah doktrin Trinitas.

Terhadap Al-Qur’an surat Al-Ma’idah 73 yang menyatakan kekafiran doktrin Trinitas, sang misionaris membela diri dengan mengklaim bahwa Trinitas yang diharamkan Al-Qur’an itu tidak sama dengan doktrin Trinitas yang diyakini umat Kristen. Sang penginjil menulis:

“Ayat-ayat di atas, konteksnya ketika Islam disebarkan di jazirah Arab oleh Muhammad SAW dan para pengikutnya, pada saat itu banyak terdapat bidah-bidah (ajaran sesat) dari sekte-sekte Kristen di sana. Salah satunya mereka mengarak patung atau gambar Maria, yang mereka anggap sebagai Bunda Allah. Oleh karena itulah maka ayat Al-Qur’an di atas sebagai protes atau koreksi terhadap pandangan atau kepercayaan bidah-bidah Kristen tentang Allah memiliki bunda, karena umat Islam percaya bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan; dan hal itu pasti diaminkan oleh umat Kristen karena memang memiliki iman demikian.” (halaman 31).

Ayat Al-Qur’an yang dimaksud itu berbunyi sbb: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”

Kesimpulan misionaris itu sangat keliru. Karena ayat tersebut tidak ditujukan untuk menyatakan hukum kafir terhadap doktrin Trinitas yang diyakini segelintir sekte Kristen tertentu. Ayat tersebut bersifat umum yang menolak semua jenis, istilah dan doktrin ketuhanan Trinitas, Tritunggal, Trimurti, Triparteit dan lain-lain sebagai faham kafir.

…Para misionaris tidak usah mencari-cari pembenaran Al-Qur’an untuk mendukung keabsahan doktrin Tuhan Trinitas. Karena tindakan itu mengada-ada, menyalahi kaidah tafsir, dan tidak sesuai dengan fakta teologis…

Para misionaris tidak usah mencari-cari pembenaran Al-Qur’an untuk mendukung keabsahan doktrin Tuhan Trinitas. Selain tidak ada gunanya, mengada-ada dan menyalahi kaidah tafsir, tindakan tersebut juga tidak sesuai dengan fakta teologis. Sebab fakta kebatilan doktrin Trinitas Kristiani ini juga diakui sendiri oleh para pendeta Kristen sendiri. Salah satu pendeta yang gigih menolak Trinitas adalah Tjantana Jusman  dari Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia (GPSDI). Dalam buku “Rahasia Pribadi Allah” (150 halaman) yang diterbitkan oleh PT Bethlehem Publisher Jakarta ini, Pendeta Jusman  menulis bahwa pengajaran Tritunggal tidak Alkitabiah. Karena kata “Tritunggal” atau “Tritunggal Maha Kudus” tidak pernah ada di dalam Alkitab dan Alkitab tidak pernah menyatakan secara harfiah tentang adanya tiga pribadi Allah.

Selain tidak Alkitabiah, tulis Jusman, pengajaran Tritunggal juga tidak apostolik karena tidak sesuai dengan pengajaran para rasul yang justru menekankan  keesaan Allah. Ia juga mengajak umat Kristen untuk mengikuti pengajaran sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para rasul (apostolik) karena para rasul adalah dasar gereja seperti tertulis dalam Efesus 2: 19-20: “…anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai penjuru”.

Bahkan pada halaman 46-47, Pendeta Jusman menyebut doktrin Trinitas sebagai ajaran iblis: “Doktrin Tritunggal ini hanyalah doktrin manusia… Kenapa membingungkan? Karena si Iblis ada di balik doktrin manusia ini supaya umat Tuhan dan Gereja menjadi kacau dan bingung tentang pribadi Allah (ke-Allah-an). Jadi, who is the author of confusion? Sudah jelas jawabannya, si Iblis”.

…Bahkan pada halaman 46-47, Pendeta Jusman menyebut doktrin Trinitas sebagai ajaran iblis…

Karena yakin seratus persen terhadap kebatilan doktrin Trinitas, maka pada halaman 94 dan 109, Pendeta Jusman menggelar tantangan yang dahsyat, yaitu Sayembara Berhadiah Satu Miliar Rupiah kepada siapapun yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan seputar Trinitas.

Jika Pendeta Kristen sendiri berterus terang bahwa Trinitas adalah ajaran iblis, maka penyelewengan Al-Qur’an untuk diperalat sebagai alat pembenaran Trinitas adalah tindakan yang makin menambah daftar kesalahan dan dosa.

Daripada mengotak-atik kitab suci Al-Qur’an, lebih berguna bagi penginjil bila mereka menjawab sayembara Trinitas berhadiah 1 milliar yang diadakan oleh Pendeta Tjantana Jusman. Siapa berani?

…Pada halaman 94 dan 109, Pendeta Jusman menggelar Sayembara Berhadiah Satu Miliar Rupiah kepada siapapun yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan seputar Trinitas…

FAKTA-FAKTA INVALIDITAS TRINITAS

Doktrin Ketuhanan Trinitas (Tritunggal) menyatakan bahwa Kodrat Tuhan terdiri dari 3 Oknum, yaitu: Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus. Ketiga oknum Tuhan itu diyakini sebagai satu pribadi yang sehakikat, sezat, dan memiliki Kodrat Ilahi yang sama.

Trinitas tidak Alkitabiah dan tidak Apostolistik

Kesimpulan bahwa doktrin Tritunggal yang tidak Alkitabiah (tidak tercantum dalam Alkitab) serta tidak apostolic (bertentangan dengan ajaran para rasul), seperti yang diuraikan oleh Pendeta Jusman,  diakui oleh ensiklopedia internasional. Encyclopedia Americana, edisi 1957, vol 27, hlm 69 menyebutkan, kata “Tritunggal” tidak ada di dalam Alkitab. Istilah “tiga pribadi” tidak pernah diterapkan dalam Alkitab dalam kaitannya dengan doktrin Tritunggal.

New Catholic Encyclopedia, edisi 1967, vol 13, hlm 1021 menyebutkan,  pemakaian pertama kali kata Latin “trinitas” (Tritunggal) tentang Allah,ditemukan dalam tulisan-tulisan Tertulianus (sekitar 213 Masehi). Dialah yang pertama kali memakai istilah “tiga pribadi” di dalam konteks Tritunggal.

Encyclopedia International, edisi 1975, vol 18, hlm 226 menyebutkan, doktrin Tritunggal tidak pernah merupakan bagian dari pemberitaan oleh para rasul.

Satu-satunya ayat Trinitas adalah Ayat Palsu

Dalam Alkitab hanya satu ayat yang secara eksplisit

menyatakan doktrin Trinitas, yaitu: 1 Yohanes 5:7-8. Setelah diteliti, ayat ini ternyata palsu!

Dr. GC. Van Niftrik dan D.S.B.J Boland menulis “Di dalam Alkitab tidak diketemukan suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata TRITUNGGAL ataupun ayat-ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut, mungkin dalam 1 Yahya 5:6-8. Tetapi sebagian besar dari ayat itu agaknya belum tertera dalam naskah aslinya. Bagian itu setidak-tidaknya harus diberi kurung.” (Dogmatika masa kini, hlm. 418).

Kepalsuan ayat Trinitas ini ditegaskan oleh penafsir Katolik:

“Ayat 7-8: ‘di dalam sorga….. di bumi.’ Bagian ayat ini tidak terdapat dalam naskah-naskah Yunani yang paling tua dan tidak pula dalam terjemahan-terjemahan kuno, bahkan tidak dalam naskah-naskah paling baik dari Vulgata. Bagian ini kiranya aslinya sebuah catatan di pinggir halaman salah satu naskah terjemahan Latin yang kemudian disisipkan ke dalam naskah-naskah oleh penyalin dan akhirnya bahkan disisipkan ke dalam beberapa naskah Yunani. Karenanya bagian ini pasti tidak asli.” (Kitab Suci Perjanjian Baru dengan Pengantar dan Catatan, (Imprimatur Mgr Donatus Jagom SVD, Uskup Agung Ende-Ndona 1974), cetakan tahun 1976-1977, hlm. 563.

…Barangsiapa mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan daya akal manusiawi, akan menjadi tidak waras…

Trinitas adalah doktrin misterius yang tidak sesuai dengan akal sehat

“Barangsiapa mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan daya akal manusiawi, akan menjadi tidak waras…” (Alban Douglas, Inti Ajaran Alkitab I, (penterj. H.a. Oppusunggu), BPK Gunung Mulia, Jakarta 1986, hal. 19-20).

“Pengakuan Allah Tritunggal merupakan kekhasan iman Kristiani. Pengakuan inilah dasar dan puncak misteri. Misteri Allah Tritunggal tidak dapat disimpulkan dari apa pun dalam dunia. Misteri Tritunggal adalah misteri iman yang mutlak(Adolf Heuken Sj. Ensiklopedi Gereja Jilid V, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1995, hal. 21). [a. ahmad hizbullah mag]