NEW YORK – Sharif, seorang sopir taksi di Manhattan, New York, Amerika, tak menyangka pengakuannya bahwa dia beragama Islam membuatnya dia digorok dan wajahnya disilet-silet.

Luka di leher Ahmed H Sharif itu sangat serius. Belum lagi di wajahnya, lengan, serta salah satu tangan ketika berusaha menangkis serangan Michael Enright yang membabi buta.

…Sharif, seorang sopir taksi di New York, tak menyangka pengakuannya bahwa dia beragama Islam membuatnya dia digorok dan wajahnya disilet-silet…

“Anggap saja ini checkpoint,” demikian ucapan Enright yang bisa diingat Sharif.

Ia menyerang Sharif setelah sang sopir itu mengucapkan salam dalam bahasa Arab kepadanya saat akan masuk taksi. Pemuda berusia 21 tahun itu kemudian ditahan tanpa jaminan, atas tuduhan percobaan pembunuhan, serangan yang bermotif kebencian dan kepemilikan senjata. Jika terbukti bersalah, Enright akan dipenjara selama 25 tahun atas usaha pembunuhan.

Sangat disayangkan, sebab Enright adalah seorang mahasiswa School of Visual Arts yang pernah menjadi relawan di Afghanistan. Ia terlibat dalam kelompok Intersections International, yang selama ini giat mempromosikan dialog antaragama. Kelompok ini bahkan mendukung rencana pendirian masjid dan Islamic Center dekat ground zero yang kontroversial itu.

“Hal ini sangat tragis. Kami berusaha membangun jembatan selama ini. Kami sangat terkejut dan sedih,” papar jubir kelompok itu, Robert Chase, kepada Huffington Post.

Sharif (43) adalah seorang imigran dari Bangladesh yang mengemudikan taksi selama 15 tahun. Ia mengaku serangan itu membuatnya ketakutan setengah mati. “Dengan ketegangan karena pembangunan masjid, sebaiknya semua sopir taksi berhati-hati,” katanya.

Menanggapi peristiwa tragis itu, Walikota New York Michael Bloomberg menyesalkan insiden yang menimpa seorang sopir taksi di kota tersebut. Gara-gara mengaku Muslim, sopir malang itu digorok lehernya.

“Serangan ini merupakan kebalikan dari apa yang diyakini warga New York. Tak peduli siapapun Tuhan yang kita sembah, kami akan terus berusaha melacak tindak kriminal yang terjadi karena jati diri seseorang dan siapa yang mereka sembah,” ujar Bloomberg dalam pernyataan yang dilansir Huffington Post, Kamis (26/8/2010).

Bloomberg telah berbincang dengan korban, Ahmed H Sharif, sopir taksi yang seorang imigran dari Bangladesh. Ia juga mengundang Sharif untuk menemuinya di Balai Kota, besok, agar mereka bisa berbincang lebih banyak lagi. Pria yang mengemudi taksi selama 15 tahun itu menerima tawaran Bloomberg.

…Saya memastikan padanya, serangan yang dimotivasi sentimen anti-Muslim takkan mendapatkan tempatnya di kota ini,” papar walikota..

“Saya memastikan padanya, serangan yang dimotivasi sentimen anti-Muslim takkan mendapatkan tempatnya di kota ini,” papar walikota yang memiliki situs ekonomi sendiri ini. [taz/voa-islam.com]

Iklan