Mungkin sebuah keajaiban dalam sebuah peristiwa yang sangat langka, seorang yang telah 20 tahun tidak bisa berbicara dan mendengar, akhirnya bisa normal seperti semula setelah meminum air zam-zam.

Surat kabar Saudi Al-Wathan melaporkan hari Ahad kemarin (14/11) bahwa seorang pria Somalia bernama Ali Abdul Rahman Asy-Syarif (42 tahun) mengatakan bahwa dirinya sejak dua puluh tahun yang lalu sudah tidak bisa berbicara dan mendengar orang berbicara akibat terluka karena tembakan dalam perang saudara di Somalia.

Ia dan keluarganya akhirnya terpaksa pindah ke Inggris agar dapat hidup dengan aman dan melakukan pengobatan terhadap kebisuan dan ketulian yang ia derita. Di Inggris ia tinggal dengan istrinya dan dikarunia dengan empat orang anak, dan seorang dokter telah memberikannya kartu pengenal yang menjelaskan bahwa dirinya seorang yang tuli dan bisu.

Selama di Inggris, ia menjelaskan bahwa dirinya telah berobat dengan berbagai macam dokter spesialis, namun mereka gagal mendeteksi dan mengobati kebisuan dan ketulian yang ia alami.

Asy-Syarif menyatakan keanehannya yang ia alami tersebut bermula setelah ia meminum air zam-zam setelah melakukan ihram, dan pada waktu subuh ia mendengar suara adzan berkumandang dari masjidil haram dan ia pun bergegas memberitahukan kepala delegasi hajinya bahwa dirinya telah bisa mendengar dan berbicara. Hal tersebut membuat heran dan bingung teman-teman satu kloternya.

Syarif menjelaskan bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat bahkan mereka membawa Syarif ke rumah sakit di Mekkah untuk diperiksa kembali dan dokter di sana menyatakan positif bahwa Syarif telah bisa mendengar dan berbicara kembali.

Dr. Muhammad Razali seorang Konsultan Telinga Hidung dan Tenggorokan Rumah Sakit Raja Faisal di Mekkah, mengatakan bahwa biasanya kejadian seperti ini dapat pulih total selama enam bulan, tetapi ada kasus yang jarang terjadi di mana orang yang tuli dan bisu dapat kembali normal seperti semula atas izin Allah SWT, dan kasus Syarif merupakan salah satu kasus langka yang dapatkan.

Dr. Razali juga menjelaskan bahwa kasus seperti Syarif ini bukan kasus pertama, beberapa waktu yang lalu ada seorang jamaah yang kemana-mana harus mengenakan kacamata namun setelah meminum air zam-zam sewaktu ia menunaikan ibadah haji, dirinya tidak lagi memerlukan kacamata. [eramuslim/fq/imo]